Pesatnya perkembangan teknologi informasi komunikasi saat ini, selain memberikan dampak yang positif juga memberikan dampak yang negatif di masyarakat. Penyampaian informasi yang begitu cepat memungkinkan setiap orang dengan mudah memproduksi dan mengkonsumsi informasi melalui berbagai perangkat media sosial.
Teknologi seperti Facebook, Twitter, ataupun pesan telpon
genggam seperti Whatsapp, menjadikan penyebaran informasi dapat dilakukan
dengan instan. Persoalannya, kecepatan ini menjadikan pengguna kerap lupa
mengecek kebenaran informasi yang disebarkan.
Oleh karenanya, selain informasi yang berguna, media sosial
juga menjadi ruang tersebarnya informasi palsu atau yang hari ini biasa dikenal
sebagai hoaks dan misinformasi.
Apa sebetulnya yang dimaksud dengan Hoaks dan Misinformasi??
Apa kah hoaks dan misinformasi itu hal yang sama atau berbeda ? berikut
penjelasannya.
Hoaks dan Misinformasi
Jadi hoaks dan misinformasi itu berbeda dari segi instila
dan definisi.
Hoaks adalah istilah populer untuk informasi palsu atau
salah, dengan kata lain hoaks adalah informasi yang bertentangan dengan fakta,
sedangkan misinformasi adalah informasi yang mungkin mengandung sedikit
kebenaran tetapi dimodifikasi atau dilebih-lebihkan dengan tujuan tertentu.
Tujuan Pembuat Hoaks dan Misinfromasi
Apa sebetulnya tujuan orang-orang memanfaatkan hoaks dan
misinformasi? Menurut riset yang dilakukan Joshua Braun & Jessica Eklund,
peneliti komunikasi di Amerika,
sebagian kelompok mendapatkan keuntungan ekonomi langsung dengan memproduksi berita-berita yang tidak benar namun memiliki sifat sensasional. Sedangkan dari sisi pengguna, Prashant Bordia dan Nicholas Difonzo menyebutkan bahwa, orang dapat mudah menyebarkan berita yang tidak benar salah satunya karena ingin dikagumi oleh orang lain.
Baca Juga : Pengertian, Tujuan dan Jenis-jenis Metode Pembelajaran
Kasus Penyebaran Hoaks dan misinformasi di indonesia
Di Indonesia sendiri, penyebaran hoaks dan misinformasi
banyak terjadi, khususnya dalam peristiwa politik tahun 2019, beberapa
diantaranya adalah mengenai kedatangan jutaan TKA dari Tiongkok atau Cina,
kebangkitan PKI, dan kriminalisasi ulama yang sulit dibuktikan kebenarannya.
Persebaran berita semacam ini ketika itu menambah panasnya
kondisi politik Indonesia. Dengan jutaan jumlah pengguna internet yang ada di
Indonesia, satu saja berita hoaks atau misinformasi dibuat dan disebar bisa
dibayangkan dampak negatif yang akan ditimbulkan.
Pada 2018, peneliti LIPI dari Kedeputian Ilmu Pengetahuan
Sosial dan Kemanusiaan, melakukan survei penelitian di 9 provinsi di Indonesia
seperti Aceh, Sumatera Utara, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI
Yogyakarta, Jawa Timur dan Sulawesi Selatan.
Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa orang-orang di
kota besar memiliki risiko yang lebih tinggi untuk terpapar pada hoaks dan
misinformasi. Kenapa begitu?
Jadi, penduduk dikota besar punya banyak peluang untuk mengakses
informasi terutama dari internet risiko yang sama juga dihadapi oleh orang-orang
dengan pendidikan tinggi Sebab mereka adalah kelompok yang lebih mudah mendapat
arus informasi dari media sosial.
Solusi mengtasi Hoaks dan Misinformasi
Pemerintah harus segera mengantisipasi penyebaran hoaks dan misinformasi dalam konteks apapun, yang dapat memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa sebab jika hal ini tidak segera diantisipasi, dalam jangka panjang akan menjadi ancaman bagi demokrasi di Indonesia Salah satu caranya adalah dengan memasukkan materi pemikiran kritis dan literasi media dalam kurikulum pendidikan di Indonesia.
EmoticonEmoticon